Ide untuk menulis posting ini bermula ketika saya tengah mengerjakan theme wordpress yang mungkin sedang anda lihat sekarang. Bila di header blog ini ada sesosok cewek berseragam sekolah jepang yang menenteng sebuah katana sembari berlari, nah itulah hasil pertama kali saya melakukan coding secara serius di platform linux (tepatnya Ubuntu Karmic). Baidewei kalo mau tau, nama theme-nya Monochrome Kiss yang terinspirasi dari lagu Monokuro no Kisu oleh Sid yang kebetulan diputer pas baru kelar finishing jQuery-nya.
Fyi, untuk code editor ini preferensi saya adalah yang semirip mungkin dengan notepad ples ples. Setidaknya ada syntax highlighting, code folding, indentation guide, plus file browser terintegrasi. Automatic code/tag completion menurut saya terlalu merepotkan bagi yang lebih suka ngetik manual semua kodenya. Yah, semuanya tergantung selera. Berikut sedikit reviewnya
gEdit
(apt-get install gedit)
Terinstall secara default pada Ubuntu dan semua distro dengan desktop Gnome. Ini tipe aplikasi favorit saya, simpel secara default namun bisa dikustomisasi menjadi super powerful. Yang menjadi nilai plus adalah dukungan plugin dan sifat customizable-nya yang cukup luas. Meskipun begitu, saya membiarkannya tetap simple dan ringan untuk pemakaian sebagai teks editor, ya buat catatan-catatan kecil begitu lah.
Lebih lanjut bisa anda baca artikel berikut: Customizing gedit as a Web Developer’s IDE dan Textmate-like Gedit in few steps
Blue Fish web development studio
(apt-get install bluefish)
Code editor yang pertama kali terlintas di benak saya ketika mencari alternatif gedit. Sesuai namanya, editor ini memfokuskan diri untuk pengembangan web. Tak heran bila shortcut-shortcut tag html, WYSiWYG editor, dan file browser sudah terintegrasi di dalamnya. Meskipun begitu, Blue Fish juga mendukung syntax highlihting berbagai source code lain kok. Sayangnya untuk indentasi saya agak kebingungan dengan BlueFish ini, tidak ada guide untuk setiap penekanan tombol tab. Code folding juga tidak ada (atau saya yang gak nemuin?)
Fitur Bluefish bisa ditemukan di situs resminya: http://bluefish.openoffice.nl/features.html
jEdit programmer’s text editor
(apt-get install jedit)
Tidak seperti Blue Fish yang spesialis web, jEdit dari namanya sih keliatan lebih universal. Anda butuh java untuk menjalankannya, dan itu berarti multiplatform (hey, did you spot ‘j’ in the name?). Yang pertama terpikir oleh saya begitu menjalankannya adalah tampilannya yang awful. Namun bisa diakali dengan mengganti opsi interface agar menggunakan library GTK alih-alih Java Swing. Satu lagi, font pada bagian editor tampak tidak mulus dan pecah-pecah. Awalnya saya pikir masalah ada di font, namun setelah utak-atik lebih lanjut ditemukan bahwa setting default untuk anti-aliasing-nya adalah off. Silakan anda cari sendiri dibagian opsi.
- Beberapa fitur jEdit yang dikutip dari sini.
- Plugins can turn jEdit into a very advanced XML/HTML editor, or a full-fledged IDE, with compiler, code completion, context-sensitive help, debugging, visual diff, and many language-specific tools tightly integrated with the editor.
- Combines the best functionality of Unix, Windows and MacOS text editors.
- Runs on any operating system with a Java 2 version 1.3 or higher virtual machine – this includes MacOS X, OS/2, Unix, VMS and Windows
SciTe Scintilla based Text Editor
(apt-get install scite)
Saya belum mencoba lebih jauh text editor ini karena cuma kebetulan nemu rekomendasi di forum. Cukup ringan, bersih, dan bisa jalan di Penguin maupun Jendela. Selain itu SciTE menggunakan library scilexer yang juga digunakan oleh Notepad++, meskipun saya belum begitu mengerti kegunaannya
Selebihnya? Silakan coba sendiri atau kunjungi situs resminya di http://www.scintilla.org/
Editra
Masih dalam pengembangan, wajar bila belum tersedia dalam repository resmi. Lagi-lagi rekomendasi untuk program ini saya dapat di forum oleh orang yang akhirnya mengaku bahwa dialah developernya. Bisa jalan di berbagai platform (Windows, Mac, Unix) dan dibangun menggunakan Python dan wxWindows. Belum saya coba lebih jauh
Untuk menginstall ketikkan perintah di direktori installer:
python setup.py install
Geany
(sudo apt-get install geany)
Bukan sekedar code editor. Aplikasi dengan logo lampu ajaib aladin ini sebenarnya adalah sebuah Integrated Development Environment (IDE) yang sangat ringan dan gampang dikustomisasi. Entah kenapa feel saya paling pewe kalo pake Geany. Karena cukup memuaskan saya, akhirnya Geany lah yang saya pilih untuk menemani coding web sehari-hari, kecuali untuk Java yang saya serahkan pada NetBeans IDE (efek praktikum OOP & AI).
Berbagai extras untuk kustomisasi Geany bisa diperoleh di sini: http://www.geany.org/Download/Extras
.
.
Sesungguhnya semua kembali pada selera masing-masing. Silakan anda tentukan pilihan yang sesuai kenyamanan anda. Saya hanya berbagi pengalaman ketika “hunting” code editor di Pinguin. Ada pendapat lain?
(worship)
.
Facebook
Plurk
Twitter
Delicious
Last.fm
Flickr
Github
LinkedIn

walopun ga ngerti, tetep komen… + kunjungan perdana stelah skian lama hiatus…
b
suwun yo..
lebih manis kalo dikasih screen capturenya.
Same-same om,
Iya, saya gak sempat bikin skrinsut gegara koneksi-telkomsel-yang-maha-bekicot. Nanti akan saya update.
(doh)
[...] This post was mentioned on Twitter by akhyar. akhyar said: posting baru: Mencoba Berbagai Code Editor di Penguin – http://akhyar.web.id/?p=145 [...]
pengen ke linux.. kangenn… kelamaan di jendela nehh
belum bereksplorasi jauh dengan linux. hehe,
keren wooooiiii…
Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^
Salam dari teamronggolawe.com
udah pernah nyoba Aptana Studio…
Coba deh itu editor favoritku di pinguin & jendela
sip, bagus nih rekomendasinya… yang multi platform euy (dance) .
penguin yah
nggak pernah pakek…
hmmmm code editor di linux ya…
salah satu alternatif ku buat coding website juga kadang pakai Netbeans yang pastinya bisa di pake di Jendela sama pinguin, lumayan asyik juga lo kloninganku,xixixi
kunjungan perdana nih mas… saya juga lagi berusaha migrasi ke linux nih
akhirnya saya kembali ke Linux..
numpang lewat yar
jangan lupa mampir ya
Dulu pernah nyoba pake aptana, fitur nya banyak tapi berat nya minta ampun (atau emang komputer saya yg lemot ya ?) terus pindah lagi ke gEdit. Terakhir nemu editor namanya geany, langsung jatuh cinta sama si geany, ringan banget.
Klo saya lebih sering pake kate, editor bawaan KDE.
Sempat juga mecoba komodo. Namun karena lebih berat dan tidak matching dg KDE akhirnya balik lagi ke Kate.
Klo mau editor yang powerfull, coba pake GVim atau Emacs, editor legendaris Linux
gVim itu vim pake GUI kan ya? user friendly gak? diliat dari kacamata user awam lho ya
klo tidak terbiasa dengan vim ya sulit pake gvim
soalnya shortcut2 nya masih sama dengan vim
Stumbled upon your website via bing the other day and absolutely think its great. Keep up the fantastic work.